13 Agustus 2015

Bendera

Diposting oleh Rini Andarstuti di 11:20:00 PM 0 komentar Link ke posting ini
Sejak beberapa hari yang lalu suami sya heboh sendiri tanya-tanya bendera.
"Rin, udah tanggal sekian...belum ada bendera?"
"Gak ada hubby, kita gak pernah punya. Beli aja yg baru."

Memang, tahun-tahun sebelumnya kami tidak pernah sempat memasang bendera di rumah. Entah karena apa juga tidak terlaksana. Akhirnya, jadilah kemarin sore suami saya membeli sebuah bendera baru yang menurut dia harganya "kok mahal ya? Dua puluh lima ribu..." Hahaha...saya langsung komen: "ya wajar segitu...bendera itu dari 2 kain...lha jilbab tipis dari 1 kain aja hrganya ada yang 50rb ke atas.." secara kami juga tidak pernah tau perkembangan harga bendera..hehehe.

Setelah lama muter2 di dalam rumah...akhirnya dapatlah suami saya sesuatu yang bisa dipakai sebagai tiang. Gantungan kayu panjang sekitar 1.2m yang rencananya akan ditaruh depan pagar rumah. Bendera diikat di sana, taruh di samping bagian atas tiang listrik persis d pagar rumah kami, lalu....
"Rin, atur sedikit bendera itu dong, kurang tinggi kayaknya.."
"Yaa..apalagi saya yang cuma segini, side (sampean dlm bahasa Jawa) yang tinggi aja ndak jongkoq (nyampe). Biarin aja dah kayak gitu...bendera setengah tiang."
"Eeehh..nanti dikira berduka.."
"Iya saya lagi berduka untuk Indonesia." Jawab saya dari dapur sambil nyuci beras. Malas.


Sejujurnya kita memang tidak pernah benar-benar merdeka. Huh...pembodohan.

01 Agustus 2015

Tidak Ada Kabar; Artinya Kabar Baik

Diposting oleh Rini Andarstuti di 11:22:00 PM 0 komentar Link ke posting ini
Biasanya...kalau kerabat sudah lama tidak memberi kabar...anggap saja kabar baik. Hehehe...
Harusnya tidak begitu...ada baiknya menanyakan kabar mereka untuk sekedar tau. Tapi, memang begitu kecenderungannya....jika tidak memberi kabar, artinya sedang senang. Nanti tunggu saja kabarnya, jika sedang susah.

Maaf ya, mungkin saya lebay....atau sedang sensi juga. Kenyataannya memang banyak sanak dan kerabat yang hanya "nongol" sms-nya pas lagi butuh saja. Itu baru sms....sudah biasa. Adalagi yang hanya nongol wajahnya pas lagi kepepet saja, tambah bikin sebel.

Ya bukannya tidak mau membantu orang yang sedang susah...tapi kalau diingatnya hanya ketika susah, dan ketika senang mendadak hilang...rasanya tidak adil juga. Apa saya tidak sepantas itu diingat dalam kebahagiaan? Bukankah sejatinya kebahagiaan akan bertambah ketika dibagi? Lalu kenapa tidak ikut membaginya dengan saya? Bukan membagi materinya...tapi cukup kabarnya saja.
Aaaahh...jadi tidak selesai-selesai kecutnya kalo inget itu.

Bertahun-tahun tidak pernah menyapa entah lewat medsos atau tatap muka langsung, sekalinya sms.... mau pinjam duit untuk acara X. Lalu uniknya, acara X kapan dan bagaimana saya tidak tau sama sekali karena tidak diundang. Yak! Tidak penting juga mengundang saya ya, teman. Saya bukan pejabat yang namanya indah untuk ada dalam daftar tamu. Saya hanya teman lama yang diingat ketika perlu saja, kalau tidak perlu, maka kabar saya pun bukan hal yang menarik untuk ditanyakan.

Ada yang setiap bertemu selaluuu cerita tentang kesusahan hidup saja. Biaya A. Biaya B. Jadi ketika bertemu dengannya mau tidak mau saya spontan berpikir: pasti lagi butuh biaya Z. Maaf, bukan golongan orang tidak mampu juga, karena kami tau persis kondisi kehidupannya. Tapi kenapa seolah hari-hari adalah kesusahan saja? Apa tidak pernah ada hari bahagia dalam hidupnya? Na'uzubillaah...kami berpikir dari apa yang kami lihat dan dengar saja. Dalam hati tidak ada yang tau. Maka dari itu, alangkah baiknya tampilkan yang baik-baik saja dari hidup kita kepada orang lain.

Apa tidak boleh susah?
Boleh. Dan itu kodrati. Sudah digariskan bahwa hidup ada susah dan senang. Tapi....bagaikan bulan yang bercahaya di malam hari, dia punya sisi gelap yang selalu disembunyikan bukan? Yang ditampakkan hanya sisi terang saja. Cukup yang gelap hanya untuknya.

Apa tidak mau membantu? Sombong amat!
Mau...dan insyaAllah akan selalu mau selagi mampu. Tapi membantu pun ada kriterianya juga sepertinya: digunakan untuk apa bantuan saya? Apa lalu bisa membuatnya lebih bersemangat ato malah lebih malas? Apa memang benar-benar butuh atau hanya untuk kebutuhan yang tidak prinsipil? Hmmmm...entahlah.

Ujung-ujungnya semua kembali kepada saya. Apa saya masih sebel dengan orang-orang yang secara tidak langsung menjadikan saya "tong sampah"? Yang dipakai menampung dan membuang segala yang tidak menyenangkan.  Iya, masih.

 

::Hanya usaha untuk membuat kenangan... Copyright © 2009 Baby Shop is Designed by Ipietoon Sponsored by Emocutez