Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

18 November 2014

Jangan Sia-siain Istri (dan Suami)

Diposting oleh Rini Andarstuti di 6:14:00 AM 0 komentar
Pernah dengar atau baca potongan kalimat seperti ini?
"....jangan sia-siain istri....siapa tau rejekinya di istri...kalo istri kecewa...rejeki bisa ancur-ancuran...blablabla...."

Kalimat ini harusnya populer di kalangan para suami, bukannya para istri yang malah rajin pajang status. Hehe...Entah kenapa saya merasa kalimat indah tersebut lambat laun berubah makna menjadi sebuah ancaman terselubung dari para istri kepada para suami agar (kasarnya) "jangan macem-macem sama saya ya.." Malah jadi horor. Padahal itu awalnya adalah kalimat yang menunjukkan petuah penghormatan suami kepada istri yang bersifat harus, lelaki beriman wajib memuliakan istrinya. Sejauh mana kebaikan akhlaknya adalah dilihat dari cara dia memperlakukan istrinya, wallahu'alam.

Tapi yang menjadi miris adalah ketika kalimat itu seringkali malah membuat lupa bahwa Allah menurunkan rejeki bukan hanya kepada istri. Kepada suami. Kepada anak. Semua Allah beri dan jamin. Lalu kenapa tidak hormat kepada suami? Kenapa lalai kepada anak?

Iya saya mungkin sok tau dan tiba-tiba berubah menjadi pengamat ekonomi tidak jeli...tapi berbicara tentang ekonomi Allah memang tidak ada habisnya. Janganlah melulu menganggap perekonomian keluarga adalah dimotori oleh istri yang tidak pernah disakiti hatinya. Tidak ada salahnya. Tapi juga bukan menjadi pembenaran bahwa kita (para istri) adalah segala-galanya di rumah. Kita adalah ratu yang tidak boleh dibuat marah. Kita adalah permaisuri yang jika ingin sesuatu maka harus terpenuhi. Kalau tidak, kita akan kecewa dan rejeki bisa hancur-hancuran. Seindah itukah impian anda?

Mari berpikir sedikit rasional. Tinggalkan sejenak grup-grup sosialita kita yang barangkali menuntut kita untuk selalu tampil nomer satu, tas mewah, sepatu bagus, baju mahal...yang semua itu sebagian besar adalah dari uang suami.  Kadang ada yang ngotot: ini kan uangku sendiri! Tidak ada salahnya kita menjadi ratu, tapi bukan dengan menjadikan suami kita pelayan. Menjadikan anak-anak kita sehat namun kering jiwanya.

Rejeki itu Allah yang atur. Dia juga Yang Lebih Tau siapa yang berjuang lebih ikhlas. Saya tidak sedang memusuhi siapapun. Hanya mengajak berpikir lebih jernih. Sudahkah kita hormat dengan baik kepada suami hingga kita yakin bahwa Allah menurunkan rejeki halal lagi lancar kepada kita karenanya? Sudahkah kita mengurus anak-anak kita dengan pengasuhan terbaik sehingga Allah tidak pernah menghambat rejeki mereka untuk kita nikmati juga?

Bangun! Jangan menjadi wanita cengeng yang tidak boleh dikecewakan, nanti menangis. Sayangi suami kita, hargai perjuangan dan usaha mereka meski mungkin ada ibu-ibu yang  penghasilannya lebih besar ketimbang gaji suaminya setiap bulan, asuh anak-anak kita dengan baik, hidupkan rumah kita...habiskan waktu untuk mengurus mereka semua, bukan untuk mengurus orang lain dan segala yang meraka miliki.

Meski bukan yang terbaik, berbuatlah lebih baik dari hari ke hari.......Alah Maha Mengerti... :)

15 Oktober 2009

Nggak Usah Sekolah, Beli Sapi Aja!!!

Diposting oleh Rini Andarstuti di 12:23:00 PM 0 komentar

The Most Inpiration-Article for Me...
Dikutip dari buku : GURU GOBLOK ketemu MURID GOBLOK


-Nggak Usah Sekolah, Beli Sapi Aja!!!-

Kisah ini terjadi di warung kaki lima sekitar masjid kampus ITS. Selepas sholat Jumat, Pak Rohim (Tokoh-1) langsung menelepon saya (Tokoh-2). Memang masjid kampus ITS cukup besar sehingga walaupun sama-sama berada di masjid, belum tentu bisa ketemu. Suara dari handset di seberang menginformasikan posisi di depan tempat wudhu dan saya pun meluncur ke sana.

Begitu ketemu, acara berikutnya adalah makan di warung kaki lima tidak jauh dari tempat wudhu. Bagi saya, makan kali ini adalah nostalgia belasan tahun silam. Tempat inilah yang sering menjadi tempat cangkruk semasa aktif menjadi pengurus masjid Manarul Ilmi kampus ITS.

Sambil menunggu gado-gado, Pak Rohim ngobrol dengan empat mahasiswa yang kebetulan duduk di depannya. Setelah berbasa-basi beberapa saat, pertanyaan-pertanyaan finansial pun meluncur.

"Berapa kebutuhan uang kuliah dan biaya hidup sebulan?", selidik Guru (Pak Rohim).

"Yaa...sekitar 700 ribu." Jawab sang mahasiswa.

"Semua dikirim oleh orang tua?"

"Yaa...begitulah...."

"Nah...dengan kebutuhan bulanan seperti itu, berarti dalam setahun tidak kurang dari Rp 8 juta digunakan untuk biaya kuliah. Bila lulus selama lima tahun maka uang Rp 40 juta akan melayang. Pertanyaan saya, mewakili orang tua kalian...kapan duit itu akan kembali....?"

Walaupun tidak siap mendapatkan pertanyaan seperti itu, Guru menambahkan lagi kebingungan si mahasiswa.

"Mewakili orang tuamu...coba jawab pertanyaan ini...lebih menguntungkan mana uang sebesar 40 juta : digunakan untuk menyekolahkan kamu atau membeli sapi?"

Saya pun menimpali, 40 juta bisa dibelikan delapan ekor sapi betina yang tiap tahun akan beranak satu ekor. Dengan demikian dalam waktu lima tahun minimal akan ada 40 ekor anak sapi. Ditambah 8 induknya, total akan ada 48 ekor sapi. Itupun tanpa menghitung bahwa anak sapipun pada usia sekitar satu tahun akan menjadi induk sapi yang juga akan beranak. Dengan demikian perhitungan 48 ekor sapi adalah perhitungan dnegan pendekatan pesimis.

Dengan 48 ekor sapi, para orang tua mahasiswa ini akan bisa hidup santai. Tiap tahun dalam kondisi normal akan menerima kelahiran 48 ekor sapi. Tiap bulan sekitar 4 ekor. Untuk keamanan, tidak usah dihitung 4 ekor. Ambil separuhnya saja yaitu 2 ekor anak sapi tiap bulan. Yang 2 lagi utnuk cadangan biaya-biaya dan resiko-resiko. Masuk akal kan?

Bila seekor sapi senilai Rp 5 juta, maka tiap bulan orang tua sang mahasiswa akan menerima Rp 10 juta. Pertanyaan selanjutnya...kapan mahasiswa yang telah "mengambil" delapan induk sapi mampu mengembalikan uang dari orang tuanya senilai Rp 10 juta perbulan?

Mahasiswa tadi mengelak. Ia katakan bahwa dirinya akan mengembalikan uang sekolah tadi bukan kepada orang tuanya, tapi kepada anaknya kelak.

Mendapatkan bantahan dari mahasiswa ini, Guru menjelaskan, "Itulah sikap mental yang menjadikan negeri kita ini tidak maju-maju. Ketika ditunjukkan tanggung jawab yang lebih baik, memilih mengelak dengan membuat alibi-alibi. Menyekolahkan anak adalah sebuah kewajiban yang tidak bisa dianggap sebagai membayar utang kepada orang tua yang telah membayar uang sekolah kita."

"Apakah seandainya kamu tidak dikuliahkan orang tuamu, kamu juga tidak akan mau membayar uang kuliah anak-anakmu nanti?"

Jadi mestinya, mahasiswa tadi tetap berkomitmen untuk mengembalikan uang orang tuanya tanpa mengurangi kewajibannya untuk menyekolahkan anak-anaknya kelak. Generasi sekarang harus lebih baik dari generasi masa lalu. Generasi yang akan datang harus lebih baik daripada generasi saat ini.

================================================================

Sudahkah kita memikirkan jauh sampai ke sana??? Bahwa mereka sudah mengorbankan begitu banyak duit untuk kita tanpa pernah berpikir untuk menagihnya kembali suatu saat nanti...:)
Yaaah...bahan introspeksi pribadi saya saja.

26 Juni 2009

Tali

Diposting oleh Rini Andarstuti di 11:44:00 PM 1 komentar

Disebuah ketinggian gunung,malam turun dengan sangat gelap. Seorang pria tidak dapat apapun. Semua serba hitam. Nol jarak penglihatan. Bulan dan bintang-bintang tertutup oleh kabut. Dalam pendakiannya yang tinggal beberapa kaki lagi menuju puncak, dia tergelincir lalu jatuh ke udara, jatuh dengan kecepatan yang sangat tinggi. Selama jatuh dia hanya mampu melihat titik-titik hitam dan sensasi mengerikandari tarikan gaya grafitasi.
Dia terus jatuh dan pada saat yang paling menakutkan, muncul dibenaknya saat-saat yang baik dan yang buruk dalam perjalanan hidupnya. Sekarang dia berpikir betapa dekatnya ia dengan kematian; dan ketika itu tiba-tiba dia merasa tali yang terikat dipinggangnya menariknya dengan keras.

Kemudian tubuhnya menggantung diudara. Hanya seutas tali yang kini menahannya dan pada saat yang hening itu tidak ada pilihan lain kecuali berteriak ,”Ya Rabb tolonglah aku!!!”.
Tiba-tiba ada sebuah suara dari langit menjawab,
”perbuatan apa yang kamu inginkan dariku?”.
”Selamatkan aku Ya Rabb”.
”Apakah kamu benar-benar yakin bahwa aku bisa menyelamatkanmu?”.
”Tentu saja aku yakin bahwa Engkau dapat menyelamatkanku”.
”Kalau begitu potonglah tali yang terikat dipinggangmu”.
Suasana menjadi sepi dan pria itu memutuskan untuk tetap berpegang pada tali sekuat tenaganya.
Tim penyelamat menyatakan bahwa esok harinya seorang pendaki ditemukan telah mati membeku, tubuhnya menggantung diatas tali. Tangannya memegang erat tali itu. Hanya berjarak satu kaki dari tanah.

Jangan pernah ragu terhadap firman Allah. Jangan pernah kita mengatakan bahwa Ia telah melupakan atau meninggalkan kita.

26 Mei 2009

Ada Tamu

Diposting oleh Rini Andarstuti di 8:58:00 AM 0 komentar

Semasa kita kecil dulu adalah lazim ketika ada tamu yang datang anak-anak yang masih kecil diminta oleh orangtuanya untuk "tidak mengganggu" dan tidak main di ruang depan, tidak ikut nimbrung di ruang tamu, jangan berisik atau minta uang jajan.

Kelihatannya sederhana dan kita bisa membusungkan dada membenarkan diri, "Kami memang orang timur, tahu budaya sopan santun." Sering terjadi anak tidak diberi tahu mengapa tidak boleh bermain di depan dan lebih baik duduk manis di belakang. Alih-alih diberi tahu, yang sering malah anak dijewer apabila tidak menurut setelah tamu pulang.

Pesan yang diterima anak bisa bermacam-macam, antara lain bahwa tamunya orang penting dan si anak sendiri merasa bukan sesuatu atau bukan orang yang dianggap penting. Bisa juga si anak dinggap hanya membuat problem saat tamu datang jika bermain di ruang depan, atau ikut nimbrung di ruang depan.

Oleh karena seringnya anak tidak diberi tahu mengapa ritual seperti itu dilakukan, anak tumbuh menjadi orang yang lebih aman apabila berada di ruang belakang atau di tempat-tempat yang tidak dapat dilihat dengan jelas kehadirannya atau sosoknya.

Kebiasaan ini tanpa sadar terus dipupuk dan dibawa menjadi nilai saat kita menjadi dewasa. Kita merasa tidak enak, merasa risih, kalau harus duduk di barisan depan pada saat seminar untuk umum, pada saat ibadah, atau pada saat pertemuan umum lainnya. Bahkan untuk tempat yang kita bayar untuk pelatihan misalnya, sering sekali dua baris terdepan dari ruang seminar pada umumnya kosong dan lengang.

Merasa tidak enak duduk di depan, tanpa tahu mengapa perasaan tidak enak itu muncul, tanpa sadar mengapa kok rasanya lebih afdol kalu bisa duduk di sektor belakang dan bahkan merasa sebuah kebenaran bahwa memang tempat duduk yang paling nyaman baginya adalah barisan belakang. Saat ditanya mengapa lebih suka dan nyaman duduk di belakang, maka rasio definisinya mulai bekerja dan menjelaskan filosofi bahwa yang duduk di baris depan itu adalah VIP, itu untuk tamu, itu untuk pimpinan, dan berbagai macam argumentasi "logis" lainnya.

Ada baiknya kita berhenti sejenak dan bertanya dalam diri, mengapa ya rasanya kok saya lebih sreg duduk di baris belakang? Rasanya jauh lebih nyaman kalau duduk di belakang dan sosok saya tidak terlihat jelas.

Lebih sering terjadi kita mengeluarkan argumentasi dan fantasi pembenaran, toh saya bisa mendengar dengan jelas walaupun duduk di belakang, atau "fantasi iman" daripada nanti disuruh pindah ke belakang karena duduk di depan, kan malu? Sebuah percakapan diri yang lebih banyak tampul sebagai fantasi dan pembenaran diri daripada kenyataan sebenarnya.

04 April 2009

TA : Dua Huruf yang Mengguncang Pikiran

Diposting oleh Rini Andarstuti di 6:47:00 AM 1 komentar
Ini awal April, sudah hampir satu bulan gak nulis lagi sejak terakhir awal Maret kemarin. Kuliah yang cuma 4-5 hari ternyata gak cukup ngasi waktu luang buat nulis macem-macem. Tapi, utamanya adalah : karena saya sedang bingung. Hehehe.
I havn't idea to write...
Banyak tagihan kuliah. Jadi idenya buyar kesana. Sementara kejadian dari kehidupan sehari-hari yang begitu banyak juga belum sempat terangkum alinea :)

Pekan depan saya sudah ditagih pengumpulan rencana judul TA tahap I. Hwaaaaa!!!! Gak ada ide yang mantap neh. Sedih deh...
Rencana awal Mobile Aplication. Rencana cadangan Geographic Information System. Saya ingin mobile, tapi belum bisa.

"Pak, saya belum bisa sama sekali tentang ini..." :(
"Tapi kamu mau?"
"Iya, saya gak bisa. Tapi saya mau."
"Ya sudah, itu cukup."
Hwaaaa...cukup memotivasi. Intinya kemauan, begitu menurut beliau. Tapi, 'mau' ini tentu tak pernah berjalan semulus yang diduga. Terlebih jika tau bahwa kita gak punya 'modal'. Tau bahwa kita harus memulainya dari nol dengan segala konsekuensinya, inilah yang terkadang melunturkan 'mau' itu.
Memang selama ini orang berkata : "Dimana ada kemauan, di situ ada jalan." Iya betul. Saya tidak menyalahkan itu. Tapi...itu berat sekali :) Karena hambatan-hambatan di tengah kemauan itu juga ada sepanjang jalan. So, seimbang deh! Harus mau yang sebenar-benarnya mau. Jangan cuma mau sesaat.

Tapi, masalahnya sekarang, saya tergolong yang mana ya untuk TA ini? :p Sepertinya bisa dikelompokkan sendiri ya... Bukankah kita yang menyetir tekad kita sendiri? 'Mau' atau 'benar-benar mau'?

Ayo! Give me an idea.... Apa yang bisa saya jadiin TA ya? Sesuatu yang berguna untuk orang banyak.Masukkan dan saran ditunggu. Via email, checkbox, sms, gpp...
Tak tunggu ya... :))

05 Maret 2009

Kata Teman Saya

Diposting oleh Rini Andarstuti di 10:29:00 AM 0 komentar
Ada tulisan seorang teman di buku kenangan SMA yang kemarin saya buka , membuat saya diam dan harus mencermatinya dengan benar: Segala sesuatu yang kita kirimkan ke dalam kehidupan orang lain akan kembali ke dalam kehidupan kita...

Jadi teringat dulu pernah ada kejadian sedikit tidak menyenangkan bagi saya. Jika ada kejadian seperti itu, saya lantas menghubungi beberapa sahabat terdekat dan meminta pendapat mereka. Atau terkadang sekedar berbagi pengalaman agar kita bisa belajar dari itu. Demikian juga saya. Karena kita butuh pengingat di saat sulit. Hidup sendiri itu tidak enak, jadi teman-teman itulah yang bisa mengingatkan di kala lupa. Subhanallah...betapa cintanya aku padamu saiaaang, percayalah :) :L

Lalu pendapat pun bermunculan. Penuh. Dan saya paham maksudnya. Tapi ada juga yang kepancing emosi dan ikut marah-marah seperti saya, hehehe...lucu. Wajarlah, wanita. Kalo berkumpul jadi forum gitu, selalu rame. Lama-lama malah jadi lupa dengan masalahnya, karena hati sudah tenang merasa tidak sendirian, tambah lagi solusi jitu yang logis. Selesai.

Kembali ke kalimat pertama. Jika dihubungkan dengan kejadian tidak menyenangkan, apapun itu, jadi merasa bersalah sendiri. Karena mungkin saya pernah melakukan itu juga pada orang lain dan kemudian kejadian itu kembali ke saya. Siklusnya konstan. Hanya saja, saya baru menyadarinya ketika dampaknya itu balik, bukan ketika sebelum saya berbuat. Astagfirulllah....

Itulah, mestinya selalu ingat kalimat itu agar tidak salah bersikap. Agar tidak malah sakit di kemudian hari, yang tidak lain mungkin ulah kita sendiri. Tapi bukankah kita justru lebih sering menyalahkan orang atas kejadian tidak enak yang mereka lakukan?
Padahal...bisa jadi, dimasa lalu kita jauh lebih parah dari itu menyakiti orang lain. Astagfirullahal'aziim... :(

Sekarang sebaiknya minta ampun dulu pada Allah atas hal-hal kurang 'sedap' yang menimpa. Bukan, buru-buru minta pertolongan dan mengeluh yang macam-macam sambil meyalahkan orang lain. Mungkin saja khilaf, itu salah kita sendiri. Tapi kita ingin mencari kambing hitam atas masalah tersebut. Yaaah...manusia, keinginannya macam-macam.

Lalu tentang keinginan, orang biasanya inginnya yang enak-enak saja. Inginnya gak ada masalah berat, gak ada yang menyalahkan. Ingin hidup damai sejahtera tanpa beban pikiran, mental, perasaan, dan segalanya. Lagipula sapa yang gak mau sie kecil dimanja, muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga? Luar biasa ya kalo ada orang yang kayak gitu. Tapi sadarlah! Hidup bukan seperti kalimat itu. Tidak segampang itu. Enak aja ngatur skenario! :p
Ada sms dari teman yang berisi : Tuhan hanya memberi apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan!

Yup! Semakin komplitlah kegigihan teman-teman saya dalam mengingatkan, karena saya yang dulu sering menggaung-gaungkan kalimat itu, tapi justru lupa….karena kelemahan tabiat. Kalo menuruti keinginan sie gak akan ada habisnya, percaya deh. Ini praktek nyata, jadi agar tidak diejek oleh bapak saya "Ah...teori!" . Praktek nyata yang banyak membuktikan bahwa keinginan manusia, dituruti seperti apa juga gak tamat-tamat.
Jadi Allah menentukan pemberian-Nya juga bukan berdasar keinginan manusia. Tapi kebutuhannya. Kalo manusianya ingin, tapi ternyata Allah tau bahwa sebenarnya dia gak butuh itu, ya gak diberi.

Contoh : saya ingin punya mobil. Tapi kok gak diberi-beri ya sama Allah?
Jawabannya adalah karena Allah tau bahwa mobil itu bukan kebutuhan saya. Tanpa mobil saya juga masih bisa hidup! Masih ada sepeda atau sepeda motor yang menunjang aktivitas sehari-hari. Begitulah sederhanya.

Yah...selamat berpikir dan merasa. Karena cuma berpikir tanpa merasa juga gak baik, hati jadi gak peka. Seimbanglah. Mau coba? Pasti bisa.

Akhirnya, alhamdulillah…punya teman seperti mereka, biar jauh juga tetep cinta katanya, walaupun saya terkenal jutek dan galak hehehee... :)
I Luv U so Math. U raise me up to more than I can be...

Ujian Ketaatan

Diposting oleh Rini Andarstuti di 10:24:00 AM 0 komentar
Kajian kemarin sore masih bertema Rukyah, tapi entah kenapa larinya ke materi ketaatan juga. Memang, pada dasarnya taat tidak akan pernah luput dari tiap aspek kehidupan. Itu menjadi pokok penting saat ini. Di tengah berbagai ujian hidup yang dirasa makin mendesak, maka taat adalah salah satu kunci untuk menghadapi semua dengan baik, insyaAllah.

Banyak cerita tetang kekalahan dimana pelakunya sering merasa bahwa bebannya seolah yang terberat. Bahwa tidak ada orang semenyedihkan dirinya. Bahwa Tuhan sangat jahat padanya, dll. Tapi ada lagi cerita tentang perjuangan dimana mereka merasa bahwa ujian itu memang berat, tapi mau mengambil hikmah yang banyak atas ujian tersebut.

Muslim yang taat, pasti pernah kecewa, setaat apapun dia pada Allah. Sekarang yang membedakan adalah bagaimana ketaatannya itu berperan penting membangun karakter psikisnya sehingga dia menjadi orang yang benar-benar kuat. Sekali di hantam masalah, anggaplah seberat 1 kg, dia kuat. Besok lagi kena masalah seberat 5 kg, masih kuat. Selanjutnya oleh Allah terus ditambah hingga masalah itu seberat 1 ton. Kalau dia mengaku taat pada Allah, pastinya dan harusnya dia tetap bisa menahan beban 1 ton itu juga. Karena dia percaya, bahwa Allah sudah menentukan segala sesuatu sesuai kadarnya.

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?" Al-Ankabuut:2

Itu adalah tanda bahwa Allah memang hendak 'menaikkan kelas' kita. Sederhananya begini, kita sekolah belajar berbulan-bulan, lalu untuk naik ke semester selanjutnya atau naik kelas harus lewat ujian kan? Namanya Ujian Semester. Kalo lulus, baru bisa naik kelas. Kalo tidak, ya harus tinggal kelas dulu atau paling baik diberi kesempatan mengulang. Itu syarat mutlak. Nah...begitu juga dengan ujian hidup. Menguji seberapa taat kita pada Allah. Sebagai bukti cinta kita pada-Nya, dan sebagai tanda bahwa Dia masih cinta pada kita (begini kata Ustadz yang saya dengar). Kalau sampai sekian lama kita merasa tenang-tenang saja dalam beribadah, tidak ada cobaan, bagaimana kita bisa tau bahwa ibadah kita itu benar? Jangan lantas merasa aman, tapi perlulah kita bertanya pada diri sendiri...apa ada yang salah sampai Allah belum hendak menguji kita? Apa masih belum layak uji?

Sebuah kapal belum bisa dikatakan kuat sebelum ia sanggup melawan badai.
Dan ketika badai itu datang, perlu juga lah kiranya memikirkan...kenapa sampai harus terjadi badai? Ada sesuatu kah dengan kapal itu yang harus diuji kelayakannya berlayar? Layarnya? Kemudinya? Dindingnya? Itu rahasia Allah. Kita hanya bisa berbaik sangka saja.

Pernah merasa bahwa Allah tidak adil dengan langsung menghantam lewat masalah seberat 1 ton sementara selama ini belum pernah seberat 10 kg pun?
Berbaik sangka saja. Karena Allah tau, bahwa masalah 1 ton itu juga sanggup kita hadapi tanpa harus melalui 20 hingga 500 kg. Lagipula, setelah berhasil melewatinya bukankah ada perasaan sedikit lega, "1 ton saja bisa berlalu, lain kali 900 kg juga akan baik-baik saja..." Begitulah. Persangkaan yang baik akan membentuk sikap mental yang baik juga.
Selain itu, lagi-lagi sebagai sarana introspeksi diri. Jangan hanya bisa merasa hebat setelah melewati 1 ton lantas sombong. Coba ditelusuri ke belakang, adakah kesalahan fatal kita dalam menghambakan diri pada-Nya hingga Dia menghantam kita dengan beban 1 ton? Bisa jadi karena itu. Karena Dia marah, lalu mau menegur dengan keras, dengan apa lagi selain dengan beban 1 ton agar kita segera kembali?
Wallahualam. Semua rahasia milik-Nya. Kita tidak akan pernah tau kapan kita diuji. Tapi semoga, kapanpun ia datang, dengan wujud rupa seperti apapun, kita bisa menyelesaikannya dalam rangka 'naik kelas' di hadapan Allah.

Tambahan, kalo cobaan datang bertumpuk-tumpuk dan pikiran kita buntu sementara banyak hal lain yang juga harus dikerjakan, bagi wanita mudah sekali untuk menangis karena lelah menghadapinya (sepertinya lelaki juga), maka banyak yang bilang "Sudah, jangan nangis...air mata gak akan menyelesaikan masalah!"
Ups! Anda salah kalo kasi nasihat kayak gitu ke temen Anda. Kenapa?
Air mata memang tidak akan bisa menyelesaikan masalah, kami tau itu, tapi setidaknya…ia bisa melarutkan duka, itu saja. Jadi kalo ada temen yang nangis ketika dapat masalah yang cukup berat dan Anda kesal dengannya, jangan komentar apapun, sebaiknya tinggalkan dia sendiri dan beri waktu untuk menangis. Tapi jangan lama-lama juga. Kalo sampai berhari-hari, itu bukan melarutkan duka, tapi meratapi, dan itu salah besar! :)
Cukuplah duka cita atas sebuah cobaan itu dilambangkan dengan air mata beberapa jam saja, itu manusiawi, heheheee.... :D

Intinya, bersabarlah atas cobaan karena hakikatnya hanya Allah yang tau apa yang terbaik bagi kita :L

27 Februari 2009

Hanya Pembanding

Diposting oleh Rini Andarstuti di 8:54:00 PM 0 komentar
Ada yang pernah bermimpi?
Punya banyak mimpi? :)

Ada yang pernah berperasaan?
Punya perasan yang besar?

Kalo ditanya, utamain yang mana?
Impian anda atau perasaan anda? :?

Taruhlah contoh begini : mimpi anda banyak untuk masa depan, A-Z. Lalu tiba-tiba di tengah jalan ada masalah yang membuat anda harus merombak mimpi itu, tentang perasaan tidak suka misalnya.
Ketidaksukaan yang besar terhadap sesuatu membuat anda ingin merombak mimpi itu, sebagian, atau seluruhnya!

Pilih mana?
Teruskan mimpi-mimpi itu dan lupakan perasaan anda.
Atau turuti perasaan itu dan ubah mimpi-mimpi anda.

Kalo saya : saya punya banyak mimpi yang tidak mudah dirombak hanya demi perasaan. Perasaan yang harus menyesuaikan dengan impian. Kalopun terpaksa sebaliknya, maka dari A-Z, setidaknya Q-U yang bisa disesuaikan, bukan dikalahkan. Kita hanya berusaha mengkombinasikan perasaan dengan impian, artinya : perasaan dan logika. Jangan melulu terhadap satu bagian. Walaupun kecenderungan ada. Tapi...impian itu adalah pondasi yang kita bangun sejak kecil, sejak awal, lalu apa mau semudah itu dibuang hanya gara-gara perasaan yang tidak jelas kapan datang dan perginya? Sayang sekali...

Mari berduka: untuk orang-orang yang tidak punya impian, yang tidak punya perasaan. Padahal salah satu dari dua hal ini adalah tanda bahwa dia hidup. Lalu, untuk hidup yang lebih hidup? Bertakwalah :)

16 Februari 2009

Dongeng Biji Kopi

Diposting oleh Rini Andarstuti di 10:09:00 AM 0 komentar
Ini kisah tentang wortel,telur, dan biji kopi. Sebelumnya, kita akan mencoba sebuah resep sederhana : :D
1. Panaskan tiga buah panci berisi air di atas api.
2. Pada panci 1 masukkan beberapa buah wortel.
3. Pada panci 2 masukkan beberapa butir telur.
4. Pada panci 3 masukkan beberapa biji kopi yang sudah dihaluskan menjadi bubuk kopi.
5. Panaskan ketiga panci tersebut selama 15 menit.
6. Keluarkan isi dari ketiga panci tersebut.

Mari perhatikan :
1. Wortel yang sebelumnya keras, kini berubah menjadi empuk.
2. Telur yang sebelumnya lunak di bagian dalamnya, kini menjadi keras.
3. Bubuk kopi sudah menghilang, tapi air panas sudah berubah warnanya dan memunyai bau kopi yang sangat harum.

Sekarang pikirkan tentang pekerjaan kita.
Pekerjaan itu tidak selamanya mudah. :f
Pekerjaan tidak selamanya nyaman.
Bahkan kadang-kadang pekerjaan menjadi sangat susah.
Keadaan tidak berubah seperti yang kita inginkan. :#
Orang-orang tidak memperlakukan kita seperti yang kita harapkan.
Kita bekerja sangat keras, tapi tidak mendapat hasil yang memuaskan. Apa yang terjadi di saat kita menghadapi kesulitan?

Sekarang perhatikan ketiga panci itu. Air yang mendidih bagaikan masalah di pekerjaan kita. Dan benda-benda yang dimasukkan tadi adalah kita, sikap kita terhadap air panas tersebut.
Wortel : maju dengan kuat dan tegas, namun ketika keluar menjadi lunak, lemah, kehilangan semangat. :(
Telur : maju dengan hati yang tulus dan sensitif, namun begitu keluar malah berubah menjadi sangat egois dan cuek. Berubah perangai menjadi pembenci orang lain dan diri sendiri. Sehingga tidak ada kehangatan dalam interaksi hubungan kerja. :@
Bubuk kopi : perhatikanlah....air tidak bisa mengubah bubuk kopi, tapi bubuk kopilah yang mengubah air ! :) Kita membuat suasana kerja menjadi lebih baik. Sesulit apapun itu, kita selalu bisa mengelolanya sehingga menjadi senyum. Tidak harus mudah, tapi dengan keahlian yang kita miliki, semua masalah akan selesai dengan indah.

Pilih mana?
Wortel, telur, atau bubuk kopi? :t

05 Februari 2009

Who is de' loved one?

Diposting oleh Rini Andarstuti di 11:37:00 AM 0 komentar
Sering kita merasa takwa,
tanpa sadar terjebak rasa.
Dengan sengaja mencuri-curi,
diam-diam ingkar hati…
Pada Allah mengaku cinta,
walau pada kenyataannya :
pada harta pada dunia tunduk seraya menghamba.

Fiiiuuhhh….mencintai itu susah. Banyak godaannya. Godaan kesungguhan cinta. Godaan lingkungan. Godaan cuaca. Godaan 'kata orang'. Godaan subhat…. Dan yang utama: godaan hati.

Yup! Cuplikan bait di atas cukup menjadi tamparan bagi orang yang kurang teguh mencintai. "Mencintai itu adalah pekerjaan orang-orang kuat." begitu kata Ust. Anis Matta.
Karena para pecinta sejati hanya mengenal satu pekerjaan besar dalam hidup mereka : memberi. Terus menerus memberi. Dan selamanya begitu. Menerima? Itu hanya efek! Efek dari apa yang mereka berikan. Kalau cinta berawal dan berakhir karena Allah, maka cinta yang lain hanya upaya menunjukkan cinta pada-Nya.

Sering kali mendengar curhat rekan-rekan yang patah hati (pernah merasakan sendiri sie, astagfirullah...hihihhiiii…), jadi tau seperti apa aliran darah ketika mencintai, dan ketika patah hati…semua terasa berhenti.
Berbicara tentang cinta tak akan ada habisnya, dia adalah udara yang selalu ada. Tak ada yang melihat wujudnya, tapi buktinya sempurna. Jadi ketika ada yang bilang "aku cinta padamu" lalu tak ada buktinya, mana bisa!

Begitu juga kita….
Dalam kesendirian terkadang baru bisa mulai merenungi, untuk apa Allah menghidupkan kita? Atau mungkin sampai sekarang belum pernah merenung tentang itu? Cobalah…
Itu indah. Ketika berusaha berpikir mengapa Dia memberi kita kehidupan seperti ini. Subhanallah…….ada cinta disana. Lalu kita berusaha membalas ucapannya dengan bilang "aku cinta padamu Allah..."
Lantas Dia balik bertanya, "mana buktinya?"
Dan kita hanya diam mengingat-ingat apa yang pernah kita berikan pada-Nya, dan bilang "belum ada Ya Allah", maka Dia akan berkata pula "mana bisa!!!"

Cinta itu butuh bukti. Tidak hanya janji-janji selepas itu pergi. Mencintai manusia saja tidak mungkin hanya memberi janji kan? Dimana harga diri kita? Apalagi mencintai-Nya. Buktikanlah!
Tidak bisa sempurna? Separuhnya.
Belum bisa separuhnya? Seperempatnya.
Tapi hadirkan bukti! Karena Dia juga memaklumkan "bertakwalah kepadaKu semampumu" . Yaah…semampu kita. Agar jangan sampai kita jadi orang yang tersindir dengan dua bait di awal. Dia lebih layak untuk menerima cinta kita, tanpa akan pernah dibalas dengan kekecewaan. Coz Allah is de' loved one.
Wallahualam.

NB : ini hanya usaha untuk mencari teman seperjuangan, agar ada yang menarikku ketika cintaku mulai surut….
 

::Hanya usaha untuk membuat kenangan... Copyright © 2009 Baby Shop is Designed by Ipietoon Sponsored by Emocutez