30 Juli 2015

Hari Pertama Sekolah

Diposting oleh Rini Andarstuti di 11:39:00 PM 0 komentar Link ke posting ini
Bismillaah..

Senin lalu, tanggal 27 Juli 2015 adalah hari pertama masuk sekolah serentak bagi siswa-siswi PAUD, TK, SD, SMP, dan SMA (yg udh ada MOS duluan). Banyak cerita warna-warni...dari yang bersemangat banget sampe yang mewek-mewek ditinggal emaknya...dari yang sekolahnya sebelah rumah sampe yang mesti dianter roda empat. Yang penting adalah bahwa mereka sekolah. Eh salah, belajar. Bukan sekolah. Catet.

Kenapa? Karena banyak yang sekolah gak buat belajar. Jangan sebut PAUD dan TK ya...alirannya udah beda. Berangkat ke sekolah cuma buat gaya-gayaan dan nguber nilai aja. Maka dari itu, yang utama adalah belajarnya. Bukan sekolahnya. Sekolah hanya wadah.

Lanjut ke hari pertama tersebut....adalah Naufal, anak pertama saya yang sekarang berumur 3th ikut ditanya: Naufal udah sekolah?
Sambil nyengir saya jawab: gak sekolah bu.
Hahaha...bahas hari pertama kita malah sibuk di rumah...gak ada yang sekolah.

Saya dan suami memang sepakat untuk tidak memasukkan anak kami sekolah terlalu dini. Harapannya sie sampai besar pun tidak sekolah. Orangtua yang aneh ya? Berbekal pengalaman nyata banyak orang yang sukses meski tidak sekolah...menjadi promotor otak kami untuk berpikir demikian. Hahahha...ndak kok..hanya bercanda :)

Pertama, Naufal tidak kami masukkan sekolah dulu karena bagi saya, tidak terlalu cocok untuk seorang anak seusianya dikenalkan pelajaran macam-macam. Terlalu dini baginya untuk mengenal dunia luar. Cukuplah dia belajar dari kami orangtuanya, mengenal Allah, mengenal dengan baik seluruh anggota keluarga, belajar memahami posisinya dalam keluarga, belajar akhlaqul karimah, dan pengenalan dunia dari sudut pandang sederhana. Bukankah rumah adalah wadah awal pembentukan karakter anak? Maka biarlah kami yang memulai pembentukan tersebut dengan sebaik-baik contoh yang bisa kami beri....insyaAllah.


Kedua, jika sekolah saat ini tetap dengan kurikulumnya yang njelimet dan kurang membuahkan etika yang baik bagi anak didik, maka mungkin kami akan berpikir berkali-kali untuk membawanya ke sekolah. Tidak perlu, benar-benar tidak diperlukan orang-orang pintar dengan etika dan akhlak yang jeblok. Orang-orang pintar namun lisan tidak terjaga, na'uzubillaah...

Ketiga, biarlah ia....biarlah mereka yang akan menentukan apakah mereka sudah siap untuk bersekolah dengan ikhlas. Tidak ada paksaan. Tidak ada kewajiban bagi anak-anak saya untuk menjadi ranking satu atau juara ini-itu. Pun saya tidak akan membanding-bandingkan nilai dia dengan teman-temannya. Cukup dia belajar bersungguh-sungguh, selalu jujur, sadar bahwa Allah mengawasinya, maka itu cukup. Jika demikian...silakan...masuk sekolah mana saja yang dia mau...selama kami kami mampu.  Barangkali dengan demikian dia baru dapat menyerap inti dari sebuah ilmu.

Lalu apa selanjutnya? Kami lah yang harus bersiap belajar. Menjadi guru privat semi-permanen di rumah...hehehe... Tidak resmi. Yang penting dalam sehari harus ada yang diajarkan: hijaiyah, warna, angka, benda. Semua hal bisa jadi sarana belajar....asalkan mau. Kami sudah memulainya: hari pertama masuk sekolah.
Bismillaah...semoga Allah senantiasa membantu kami, dan seluruh orangtua yang ada...untuk tetap bersemangat dan bersabar mendidik buah hati kami hingga hari-hari selanjutnya...

Allahumma aamiin.. :)



26 Juli 2015

Yang Ketiga

Diposting oleh Rini Andarstuti di 10:13:00 PM 0 komentar Link ke posting ini
Bismillaah..

Hehehe...sepertinya beberapa tahun belakangan ini saya memang hobi muncul-tenggelam dalam dunia tulis-menulis. Bagaimana tidak...9 bulan kemarin memang tidak bisa optimal juga..hamil..dan sambil mengasuh 2 balita. Yak..jadi lah saya tidak bisa membagi waktu antara mengurus mereka, rumah, online-shop saya, dan blogging. 

Jumat tgl 3 Juli lalu...lahir sudah jagoan ketiga saya. Alhamdulillaah.. Tidak lama. Lahir tgl 16 Ramadhan 1436 H memberi suami saya inspirasi untuk menamainya: Rafasya Arrayan = tempat yang tinggi di Arrayan. 

Adalah Arrayan...Surga yg diperuntukkan bagi mereka yang berpuasa. Semoga Allah memasukkan dia, kami, dan saudara-saudaranya ke Arrayan. Berkumpul bersama. Allahumma aamiin...

Berat lahir 3.2kg...lebih berat dari Naufal dan Lulu ketika lahir. Tapi tidak ada harapan lain selain melihat mereka tumbuh sehat dan cerdas. Saya sudah beranak tiga...yang kalau orang melihat kami jalan bersama tentu berpikir agak sedikit "repot" karena saya menggendong Rafa (3 pekan)... Suami menggendong Lulu (16 bulan) lalu Naufal (3th) berjalan  diantara kami. Hehe..bagai kereta apiii...

Maka dari itu...saya harus semakin berbenah. Belajar untuk mengajar. Belajar untuk bersabar. Belajar untuk mengabdi. Semua proses adalah belajar tanpa henti.
Karena al-ummu madrasah al-ula...ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Bersyukur sekali... Ada suami yang sudah dengan sangat sabar membantu dan membimbing kami semua. Love u as always..Hubby :)

Lalu mari kita lewati hari-hari dengan tetap meninggalkan jejak, anak-anakku...Naufal, Lulu, Rafa...mulai hari ini. Episode bersambung lagi...
Sebab ini hanyalah usaha untuk membuat kenangan.. :)
 

::Hanya usaha untuk membuat kenangan... Copyright © 2009 Baby Shop is Designed by Ipietoon Sponsored by Emocutez