19 Oktober 2009

Mata Duitan di Mata Saya

Diposting oleh Rini Andarstuti di 12:13:00 AM 1 komentar Link ke posting ini

Terkenal sudah, Rini-Duitan.
Di keluarga, di temen-temen, di sebagian besar orang-orang yang berkecimpung dalam dunia saya. Heheheehe....Kayak ada yang bilang "aku alergi UDANG tapi gak alergi UANG", lalu saya menambahkan "aku alergi GAK PUNYA UANG".

Membicarakan uang adalah hal yang sensitif. Lebih sensitif dari sekedar pembicaraan cinta atau perasaan-perasaan kaula muda yang sedang patah hati. Ini tentang uang. Yang memang bukan segala-galanya di dunia ini, tapi segala-galanya membutuhkan uang. Yah...akhirnya mengangkat tema : Mata Duitan di Mata Saya. Sebagai usaha meluruskan salah kaprah masyarakat (ciiieh) tentang uang.

"Zuhud itu lebih baik."
Memang. Zuhud itu utama. Sederhana. Melepaskan dunia ketika kita sudah mendapatkannya, kita mampu mendapatkannya. Tapi, apakah zuhud berarti harus miskin? Bukan begitu. Cari saja diliteratur manapun, tidak ada garis lurus antara menjadi zuhud dengan menjadi miskin.

Saya terobsesi menjadi orang kaya memang. Harus kaya, bukan sekedar ingin kaya. Karena yang kaya lebih punya kekuatan untuk mengajak. Yang kaya lebih punya kekuatan untuk mengubah. Yang kaya lebih punya kekuatan untuk membagi. Yang kaya lebih punya kekuatan untuk menyejahterakan umat.
Karena itulah duit penting buat saya. Bukan. Bukan. Bukan berarti saya matre....

Sekali lagi, mari ubah pola pikir kita. Jadilah mata duitan! Bukan mata duitan yang senang mendengar kata UANG untuk kemudian dihamburkan, bukan begitu. Tapi mata duitan yang begitu mendengar kata UANG langsung terbersit "aku harus mendapatkannya untuk keperluan yang lebih besar, untuk ibadah yang lebih besar!"
Mencari uang sama dengan bekerja untuk dunia....dan kejarlah dunia itu seakan kau akan hidup selamanya. Bagi saya, begitulah mata duitan. Bukan anak-anak matre yang senang menghamburkan uang orang tuanya, bukan wanita-wanita matre yang senang belanja ke mall dengan uang suaminya. Bukan pejabat-pejabat matre yang senang dengan uang banyak tanpa peduli dari mana jalannya.
Harta itu menjadi makanan, menjadi darah, menjadi daging, maka janganlah susun ia dari sesuatu yang haram. Kalau tubuh ini penuh dengan barang haram, apa lagi yang bisa kita andalkan untuk berdoa?

Dimana ada bisnis, di situ ada saya. Itulah image yang ingin saya bangun selama ini :)
Membangun image itu perlu (pelajaran dari seorang pengamat finansial), agar saya melekat di hati orang-orang, hehehe.
Di hati keluarga sudah cukup melekat image "Rini-Duitan, gak mau ngeluarin duit banyak-banyak!"
Di hati teman "Rini-Duitan, sedikit-sedikit bisnis."

Bagaimana di hati anda?? ^^

15 Oktober 2009

Nggak Usah Sekolah, Beli Sapi Aja!!!

Diposting oleh Rini Andarstuti di 12:23:00 PM 0 komentar Link ke posting ini

The Most Inpiration-Article for Me...
Dikutip dari buku : GURU GOBLOK ketemu MURID GOBLOK


-Nggak Usah Sekolah, Beli Sapi Aja!!!-

Kisah ini terjadi di warung kaki lima sekitar masjid kampus ITS. Selepas sholat Jumat, Pak Rohim (Tokoh-1) langsung menelepon saya (Tokoh-2). Memang masjid kampus ITS cukup besar sehingga walaupun sama-sama berada di masjid, belum tentu bisa ketemu. Suara dari handset di seberang menginformasikan posisi di depan tempat wudhu dan saya pun meluncur ke sana.

Begitu ketemu, acara berikutnya adalah makan di warung kaki lima tidak jauh dari tempat wudhu. Bagi saya, makan kali ini adalah nostalgia belasan tahun silam. Tempat inilah yang sering menjadi tempat cangkruk semasa aktif menjadi pengurus masjid Manarul Ilmi kampus ITS.

Sambil menunggu gado-gado, Pak Rohim ngobrol dengan empat mahasiswa yang kebetulan duduk di depannya. Setelah berbasa-basi beberapa saat, pertanyaan-pertanyaan finansial pun meluncur.

"Berapa kebutuhan uang kuliah dan biaya hidup sebulan?", selidik Guru (Pak Rohim).

"Yaa...sekitar 700 ribu." Jawab sang mahasiswa.

"Semua dikirim oleh orang tua?"

"Yaa...begitulah...."

"Nah...dengan kebutuhan bulanan seperti itu, berarti dalam setahun tidak kurang dari Rp 8 juta digunakan untuk biaya kuliah. Bila lulus selama lima tahun maka uang Rp 40 juta akan melayang. Pertanyaan saya, mewakili orang tua kalian...kapan duit itu akan kembali....?"

Walaupun tidak siap mendapatkan pertanyaan seperti itu, Guru menambahkan lagi kebingungan si mahasiswa.

"Mewakili orang tuamu...coba jawab pertanyaan ini...lebih menguntungkan mana uang sebesar 40 juta : digunakan untuk menyekolahkan kamu atau membeli sapi?"

Saya pun menimpali, 40 juta bisa dibelikan delapan ekor sapi betina yang tiap tahun akan beranak satu ekor. Dengan demikian dalam waktu lima tahun minimal akan ada 40 ekor anak sapi. Ditambah 8 induknya, total akan ada 48 ekor sapi. Itupun tanpa menghitung bahwa anak sapipun pada usia sekitar satu tahun akan menjadi induk sapi yang juga akan beranak. Dengan demikian perhitungan 48 ekor sapi adalah perhitungan dnegan pendekatan pesimis.

Dengan 48 ekor sapi, para orang tua mahasiswa ini akan bisa hidup santai. Tiap tahun dalam kondisi normal akan menerima kelahiran 48 ekor sapi. Tiap bulan sekitar 4 ekor. Untuk keamanan, tidak usah dihitung 4 ekor. Ambil separuhnya saja yaitu 2 ekor anak sapi tiap bulan. Yang 2 lagi utnuk cadangan biaya-biaya dan resiko-resiko. Masuk akal kan?

Bila seekor sapi senilai Rp 5 juta, maka tiap bulan orang tua sang mahasiswa akan menerima Rp 10 juta. Pertanyaan selanjutnya...kapan mahasiswa yang telah "mengambil" delapan induk sapi mampu mengembalikan uang dari orang tuanya senilai Rp 10 juta perbulan?

Mahasiswa tadi mengelak. Ia katakan bahwa dirinya akan mengembalikan uang sekolah tadi bukan kepada orang tuanya, tapi kepada anaknya kelak.

Mendapatkan bantahan dari mahasiswa ini, Guru menjelaskan, "Itulah sikap mental yang menjadikan negeri kita ini tidak maju-maju. Ketika ditunjukkan tanggung jawab yang lebih baik, memilih mengelak dengan membuat alibi-alibi. Menyekolahkan anak adalah sebuah kewajiban yang tidak bisa dianggap sebagai membayar utang kepada orang tua yang telah membayar uang sekolah kita."

"Apakah seandainya kamu tidak dikuliahkan orang tuamu, kamu juga tidak akan mau membayar uang kuliah anak-anakmu nanti?"

Jadi mestinya, mahasiswa tadi tetap berkomitmen untuk mengembalikan uang orang tuanya tanpa mengurangi kewajibannya untuk menyekolahkan anak-anaknya kelak. Generasi sekarang harus lebih baik dari generasi masa lalu. Generasi yang akan datang harus lebih baik daripada generasi saat ini.

================================================================

Sudahkah kita memikirkan jauh sampai ke sana??? Bahwa mereka sudah mengorbankan begitu banyak duit untuk kita tanpa pernah berpikir untuk menagihnya kembali suatu saat nanti...:)
Yaaah...bahan introspeksi pribadi saya saja.

12 Oktober 2009

Almost Paradise : Lombok

Diposting oleh Rini Andarstuti di 11:14:00 AM 0 komentar Link ke posting ini

Alhamdulillah masih punya kesempatan buat nulis lagi, insyaAllah ini awal buat tulisan selanjutnya :) Sempat disappointed sie ngeliat ada bulan yang kosong dari artikel apapun, tapi sudahlah...waktunya mengisi kembali... :L

Lebaran kemarin saya pulang kampung : Lombok. Saya suka dengan julukan yang saya buat sendiri : Almost Paradise :D Udah setaun gak pulang sejak Lebaran taun sebelumnya. Setaun rasanya sangat lama untuk sekedar pulang melihat -home sweet home- :D Pertanyaan yang sering saya dengar "Apa kamu gak berniat menetap di luar Lombok, Rin?" Hhhhmm...keegoisan saya menjawab : iya. Tapi, bukan berarti saya fanatik berat atas kampung saya. Itu hanya kerinduan, selebihnya urusan Allah. Saya tidak menutup mata untuk tinggal di mana saja, semua Indonesia indah....namun tentu saja, kampung halaman selalu berkesan mendalam, "di sana tempat lahir beta..."

Selama 15 hari di sana ternyata memang tidak cukup waktu untuk berkeliling ke tempat-tempat yang selama ini jarang bahkan tidak pernah saya kunjungi. Ini juga berbenturan dengan semangat saya untuk 'ingin selalu di rumah' bermain dengan adik dan anak tetangga saya yang kecil-kecil. Keributan di rumah yang menyenangkan. Makanya, beberapa kali saya harus minta maaf pada teman-teman yang mengajak main karena selama beberapa hari tersebut saya lebih senang di rumah saja.. :)

Tapi, setelah berhasil memepetkan waktu, saya jadi punya jadwal main juga ke beberapa tempat seperti ini :















Dan inilah dia, komunitas yang membuat saya betah di rumah saja, hehehehe :z

 

::Hanya usaha untuk membuat kenangan... Copyright © 2009 Baby Shop is Designed by Ipietoon Sponsored by Emocutez