05 Maret 2009

Kata Teman Saya

Diposting oleh Rini Andarstuti di 10:29:00 AM 0 komentar Link ke posting ini
Ada tulisan seorang teman di buku kenangan SMA yang kemarin saya buka , membuat saya diam dan harus mencermatinya dengan benar: Segala sesuatu yang kita kirimkan ke dalam kehidupan orang lain akan kembali ke dalam kehidupan kita...

Jadi teringat dulu pernah ada kejadian sedikit tidak menyenangkan bagi saya. Jika ada kejadian seperti itu, saya lantas menghubungi beberapa sahabat terdekat dan meminta pendapat mereka. Atau terkadang sekedar berbagi pengalaman agar kita bisa belajar dari itu. Demikian juga saya. Karena kita butuh pengingat di saat sulit. Hidup sendiri itu tidak enak, jadi teman-teman itulah yang bisa mengingatkan di kala lupa. Subhanallah...betapa cintanya aku padamu saiaaang, percayalah :) :L

Lalu pendapat pun bermunculan. Penuh. Dan saya paham maksudnya. Tapi ada juga yang kepancing emosi dan ikut marah-marah seperti saya, hehehe...lucu. Wajarlah, wanita. Kalo berkumpul jadi forum gitu, selalu rame. Lama-lama malah jadi lupa dengan masalahnya, karena hati sudah tenang merasa tidak sendirian, tambah lagi solusi jitu yang logis. Selesai.

Kembali ke kalimat pertama. Jika dihubungkan dengan kejadian tidak menyenangkan, apapun itu, jadi merasa bersalah sendiri. Karena mungkin saya pernah melakukan itu juga pada orang lain dan kemudian kejadian itu kembali ke saya. Siklusnya konstan. Hanya saja, saya baru menyadarinya ketika dampaknya itu balik, bukan ketika sebelum saya berbuat. Astagfirulllah....

Itulah, mestinya selalu ingat kalimat itu agar tidak salah bersikap. Agar tidak malah sakit di kemudian hari, yang tidak lain mungkin ulah kita sendiri. Tapi bukankah kita justru lebih sering menyalahkan orang atas kejadian tidak enak yang mereka lakukan?
Padahal...bisa jadi, dimasa lalu kita jauh lebih parah dari itu menyakiti orang lain. Astagfirullahal'aziim... :(

Sekarang sebaiknya minta ampun dulu pada Allah atas hal-hal kurang 'sedap' yang menimpa. Bukan, buru-buru minta pertolongan dan mengeluh yang macam-macam sambil meyalahkan orang lain. Mungkin saja khilaf, itu salah kita sendiri. Tapi kita ingin mencari kambing hitam atas masalah tersebut. Yaaah...manusia, keinginannya macam-macam.

Lalu tentang keinginan, orang biasanya inginnya yang enak-enak saja. Inginnya gak ada masalah berat, gak ada yang menyalahkan. Ingin hidup damai sejahtera tanpa beban pikiran, mental, perasaan, dan segalanya. Lagipula sapa yang gak mau sie kecil dimanja, muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga? Luar biasa ya kalo ada orang yang kayak gitu. Tapi sadarlah! Hidup bukan seperti kalimat itu. Tidak segampang itu. Enak aja ngatur skenario! :p
Ada sms dari teman yang berisi : Tuhan hanya memberi apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan!

Yup! Semakin komplitlah kegigihan teman-teman saya dalam mengingatkan, karena saya yang dulu sering menggaung-gaungkan kalimat itu, tapi justru lupa….karena kelemahan tabiat. Kalo menuruti keinginan sie gak akan ada habisnya, percaya deh. Ini praktek nyata, jadi agar tidak diejek oleh bapak saya "Ah...teori!" . Praktek nyata yang banyak membuktikan bahwa keinginan manusia, dituruti seperti apa juga gak tamat-tamat.
Jadi Allah menentukan pemberian-Nya juga bukan berdasar keinginan manusia. Tapi kebutuhannya. Kalo manusianya ingin, tapi ternyata Allah tau bahwa sebenarnya dia gak butuh itu, ya gak diberi.

Contoh : saya ingin punya mobil. Tapi kok gak diberi-beri ya sama Allah?
Jawabannya adalah karena Allah tau bahwa mobil itu bukan kebutuhan saya. Tanpa mobil saya juga masih bisa hidup! Masih ada sepeda atau sepeda motor yang menunjang aktivitas sehari-hari. Begitulah sederhanya.

Yah...selamat berpikir dan merasa. Karena cuma berpikir tanpa merasa juga gak baik, hati jadi gak peka. Seimbanglah. Mau coba? Pasti bisa.

Akhirnya, alhamdulillah…punya teman seperti mereka, biar jauh juga tetep cinta katanya, walaupun saya terkenal jutek dan galak hehehee... :)
I Luv U so Math. U raise me up to more than I can be...

Ujian Ketaatan

Diposting oleh Rini Andarstuti di 10:24:00 AM 0 komentar Link ke posting ini
Kajian kemarin sore masih bertema Rukyah, tapi entah kenapa larinya ke materi ketaatan juga. Memang, pada dasarnya taat tidak akan pernah luput dari tiap aspek kehidupan. Itu menjadi pokok penting saat ini. Di tengah berbagai ujian hidup yang dirasa makin mendesak, maka taat adalah salah satu kunci untuk menghadapi semua dengan baik, insyaAllah.

Banyak cerita tetang kekalahan dimana pelakunya sering merasa bahwa bebannya seolah yang terberat. Bahwa tidak ada orang semenyedihkan dirinya. Bahwa Tuhan sangat jahat padanya, dll. Tapi ada lagi cerita tentang perjuangan dimana mereka merasa bahwa ujian itu memang berat, tapi mau mengambil hikmah yang banyak atas ujian tersebut.

Muslim yang taat, pasti pernah kecewa, setaat apapun dia pada Allah. Sekarang yang membedakan adalah bagaimana ketaatannya itu berperan penting membangun karakter psikisnya sehingga dia menjadi orang yang benar-benar kuat. Sekali di hantam masalah, anggaplah seberat 1 kg, dia kuat. Besok lagi kena masalah seberat 5 kg, masih kuat. Selanjutnya oleh Allah terus ditambah hingga masalah itu seberat 1 ton. Kalau dia mengaku taat pada Allah, pastinya dan harusnya dia tetap bisa menahan beban 1 ton itu juga. Karena dia percaya, bahwa Allah sudah menentukan segala sesuatu sesuai kadarnya.

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?" Al-Ankabuut:2

Itu adalah tanda bahwa Allah memang hendak 'menaikkan kelas' kita. Sederhananya begini, kita sekolah belajar berbulan-bulan, lalu untuk naik ke semester selanjutnya atau naik kelas harus lewat ujian kan? Namanya Ujian Semester. Kalo lulus, baru bisa naik kelas. Kalo tidak, ya harus tinggal kelas dulu atau paling baik diberi kesempatan mengulang. Itu syarat mutlak. Nah...begitu juga dengan ujian hidup. Menguji seberapa taat kita pada Allah. Sebagai bukti cinta kita pada-Nya, dan sebagai tanda bahwa Dia masih cinta pada kita (begini kata Ustadz yang saya dengar). Kalau sampai sekian lama kita merasa tenang-tenang saja dalam beribadah, tidak ada cobaan, bagaimana kita bisa tau bahwa ibadah kita itu benar? Jangan lantas merasa aman, tapi perlulah kita bertanya pada diri sendiri...apa ada yang salah sampai Allah belum hendak menguji kita? Apa masih belum layak uji?

Sebuah kapal belum bisa dikatakan kuat sebelum ia sanggup melawan badai.
Dan ketika badai itu datang, perlu juga lah kiranya memikirkan...kenapa sampai harus terjadi badai? Ada sesuatu kah dengan kapal itu yang harus diuji kelayakannya berlayar? Layarnya? Kemudinya? Dindingnya? Itu rahasia Allah. Kita hanya bisa berbaik sangka saja.

Pernah merasa bahwa Allah tidak adil dengan langsung menghantam lewat masalah seberat 1 ton sementara selama ini belum pernah seberat 10 kg pun?
Berbaik sangka saja. Karena Allah tau, bahwa masalah 1 ton itu juga sanggup kita hadapi tanpa harus melalui 20 hingga 500 kg. Lagipula, setelah berhasil melewatinya bukankah ada perasaan sedikit lega, "1 ton saja bisa berlalu, lain kali 900 kg juga akan baik-baik saja..." Begitulah. Persangkaan yang baik akan membentuk sikap mental yang baik juga.
Selain itu, lagi-lagi sebagai sarana introspeksi diri. Jangan hanya bisa merasa hebat setelah melewati 1 ton lantas sombong. Coba ditelusuri ke belakang, adakah kesalahan fatal kita dalam menghambakan diri pada-Nya hingga Dia menghantam kita dengan beban 1 ton? Bisa jadi karena itu. Karena Dia marah, lalu mau menegur dengan keras, dengan apa lagi selain dengan beban 1 ton agar kita segera kembali?
Wallahualam. Semua rahasia milik-Nya. Kita tidak akan pernah tau kapan kita diuji. Tapi semoga, kapanpun ia datang, dengan wujud rupa seperti apapun, kita bisa menyelesaikannya dalam rangka 'naik kelas' di hadapan Allah.

Tambahan, kalo cobaan datang bertumpuk-tumpuk dan pikiran kita buntu sementara banyak hal lain yang juga harus dikerjakan, bagi wanita mudah sekali untuk menangis karena lelah menghadapinya (sepertinya lelaki juga), maka banyak yang bilang "Sudah, jangan nangis...air mata gak akan menyelesaikan masalah!"
Ups! Anda salah kalo kasi nasihat kayak gitu ke temen Anda. Kenapa?
Air mata memang tidak akan bisa menyelesaikan masalah, kami tau itu, tapi setidaknya…ia bisa melarutkan duka, itu saja. Jadi kalo ada temen yang nangis ketika dapat masalah yang cukup berat dan Anda kesal dengannya, jangan komentar apapun, sebaiknya tinggalkan dia sendiri dan beri waktu untuk menangis. Tapi jangan lama-lama juga. Kalo sampai berhari-hari, itu bukan melarutkan duka, tapi meratapi, dan itu salah besar! :)
Cukuplah duka cita atas sebuah cobaan itu dilambangkan dengan air mata beberapa jam saja, itu manusiawi, heheheee.... :D

Intinya, bersabarlah atas cobaan karena hakikatnya hanya Allah yang tau apa yang terbaik bagi kita :L

Ikhwan Akhwat juga Manusia

Diposting oleh Rini Andarstuti di 10:21:00 AM 0 komentar Link ke posting ini
"Ukhtie, anti jangan jutek lagi ke ana kayak dulu ya...."

Aku tertohok mebaca kalimat itu, akhirnya senyam-senyum juga dan membalas, "Afwan, mungkin dulu banyak khilaf. Tapi, jadi akhwat juga gak berarti langsung berubah jadi lemah lembut kan?"

Hehehe...ini hal biasa dalam pergaulan sesama ikhwah. Perkara ada akhwat yang jutek, yang keras, yang emosian, yang cuek, yang pemalu, yang pendiam, yang cengeng, banyak lah. Itu warna-warni karakter.
Ikhwan juga gak jauh-jauh dari itu. Sama saja.

Sering terdengar keluhan di kalangan ikhwan tentang akhwat yang bisanya ngomel-ngomel saja. Tapi di kalangan akhwat juga banyak komentar tentang ikhwan yang omongannya sepedas cabe sampe menusuk telinga. Tapi mau gimana? Itu karakter, tidak bisa diubah. Hanya bisa direm:
Yang galak, jangan galak-galak amat. Nanti pada kabur semua.
Yang cuek, jangan terlalu cuek. Disekitar kita banyak manusia juga :D
Yang nakal, jangan nakal lah jadi ikhwan! Seneng banget jadi preman...
Yang pedes, kasi gula sedikit. Gak semua orang bisa makan makanan pedes.
Yang pemalu, ayo mulai berinteraksi.
Yang pemalas, malasnya kalo libur aja deh…
Yang selalu nunggu komando, inisiatif d0ng! Buktikan merahmu!

Ikhwan akhwat juga manusia. Bukan berarti jilbab besar adalah wujud kesempurnaan watak. Kalo sikap mungkin bisa nyaris sempurna, karena itu adalah hasil bentukan. Tapi karakter? Itu bawaan. Mau dikemanakan? :(
Bukan mencari pembenaran sie, hanya minta permakluman dan kelapangan hati untuk menerima karakter teman seperjuangan. Toh mereka masih punya sisi baik yang mungkin sering kita lupakan karena kesalnya dengan kekeliruan mereka.
"Panas setahun dihapus hujan sehari..."

Gimana? Mau mengerti? Ikhlas kan? Iya...terima kasih.... :D

Tapi, buat yang merasa bersalah…berubah d0ng! Jangan gitu-gitu terus dari jaman dahulu. Lama-lama juga orang akan bosen dengan watak buruk yang tidak ada pengurangan. Hu.Hu.Hu...aku sedih menyindir diri sendiri :p
Buat yang gak pernah merasa bersalah? Ke laut ajah!!!! :x

Mari Berbahagia

Diposting oleh Rini Andarstuti di 10:18:00 AM 0 komentar Link ke posting ini
Mari berbahagia untuk hati-hati yang tidak pernah mati.
Untuk yang selalu hidup walau dunia berhenti.
Untuk yang selalu tersenyum penuh arti.
Untuk yang selalu berlari dengan niat demi Rabbi.

Belajar Mengelola Kekecewaan dgn Bisnis

Diposting oleh Rini Andarstuti di 9:51:00 AM 0 komentar Link ke posting ini
Ini bukan hasil riset profesor manapun, ini cuma hasil analisa saya yang apa adanya. Hehehe...Mari simak penjelasan saya yang juga apa adanya.
Anda pernah kecewa? Percaya gak kalo kekecewaan bisa dikelola dengan kebiasaan anda berbisnis? Fiiuuuh...hal yang sedikit bersaudara sie dengan kegembiraan dan kekecewaan, karena berkaitan langsung dengan untung-rugi. Hanya ada dua pilihan ketika anda berbisnis, untung atau rugi. Kecenderungan untuk impas kecil sekali. Itu terjadi dalam keadaan mendesak yang membuat anda memutuskan untuk impas. Artinya...impas itu terjadi karena pilihan anda. Sementara untung-rugi? Itu berkaitan dengan takdir dan sedikit kecerdasan anda :)

Tidak selamanya para pebisnis itu selalu untung. Anda salah besar jika beranggapan bahwa seorang pengusaha kaya itu berkat keberuntungannya yang selalu ada ketika berjualan. Mereka adalah orang-orang gigih yang selalu bangkit walau rugi sekalipun. Mereka bukannya orang yang tidak pernah kecewa dengan kerugiannya. Tapi mereka adalah orang yang tau bagaimana cara segera mengatasi kekecewaan itu dan segera berpikir untuk mendapat keuntungan yang tertunda. Mengejarnya, bukan menunggu keuntungan itu datang dengan sendirinya.

Mau tidak mau, orang yang suka berbisnis, pasti akan sering pula bertemu dengan kekecewaan. Sebenarnya kemungkinan untung-rugi itu 50-50, hanya saja para pengusaha begitu pintar mengubahnya menjadi 70-30 atau lebih!
Saya pecinta bisnis. Hehehee...entah kenapa semuanya terlihat sebagai peluang! Di mana saja, itu adalah peluang. Selama saya merasa bukan barang yang haram dan melalui transaksi yang gak jelas...ya jalani saja.
Saya berbisnis sejak SD, percayalah! Hahahahaa...banyak hal aneh yang terjadi. Semuanya menyenangkan. Tidak hanya tentang menghitung keuntungan, tapi lebih dari itu...entahlah...yang jelas menyenangkan! :D

Selama kurun waktu itu pula, kekecewaan datang silih berganti. Orang-orang taunya saya selalu untung, tapi mana ada yang tau bahwa beberapa dari bisnis itu juga pernah rugi. Tapi saya tidak pernah jera, tidak pernah bosan. Seolah panggilan jiwa, itulah bisnis. Hehehee... :z

Lalu apa hubungannya dengan mengelola kekecewaan?
Ada. Ketika rugi, anda pasti kecewa. Tapi dengan segera pintar sekali menyiasatinya sehingga tidak larut dalam kekecewaan itu dan mulai lagi dari awal, atau melanjutkan sisa kejayaan. Itu ada seninya. Dan anda akan semakin mengasah kekebalan hati dengan berbisnis. Bagaimana tidak? Menghadapi pembeli saja sudah merupakan ujian mental. Belum lagi komplain terhadap barang yang anda tawarkan. Ditambah menghadapi pembeli yang kadang cerewetnya na'uzubillah. Apalagi bertemu dengan kerugian? Itu luar biasa. jika anda sanggup menjalaninya. Karena untuk bangkit setelah jatuh itulah yang tersulit. Ada kejadian orang di sekitar saya yang pernah rugi dalam bisnisnya, lalu sejak saat itu dia memutuskan tidak mau lagi masuk dalam dunia itu! Tidak akan.
Artinya, belum pandai mengelola kekecewaan :p Mudah trauma dan menyerah.

Cobalah....Masuklah ke dunia bisnis. Siapkan mental anda. Karena semua akan berubah begitu saja. Nikmati setiap alurnya. Dan tanpa anda sadari, suatu saat anda akan menjadi lebih kuat dari sekarang. Kuat menghadapi kekecewaan. Tidak hanya kekecewaan dalam dunia bisnis, tapi segalanya. Segala jenis kekecewaan itu akan berlalu dengan mudah. Percayalah.... :)
Maka dari itu saya menulis ini: bahwa saya bersyukur bisa menyukai bisnis.
 

::Hanya usaha untuk membuat kenangan... Copyright © 2009 Baby Shop is Designed by Ipietoon Sponsored by Emocutez