23 September 2015

Empat yang Telah Berlalu

Diposting oleh Rini Andarstuti di 3:40:00 PM 1 komentar Link ke posting ini
22 September...empat tahun yang lalu, saya dinikahkan oleh yang tersayang Bapak, dengan lelaki terbaik: Fadlulloh, suami saya.
Lalu pagi ini..kami bangun dengan lupa bahwa ini tanggal yg sama dengan empat tahun lalu. Sibuk dengan rutinitas: mengurus anak, mengurus rumah, dan sebagainya. Siang baru sadar dan ingat.

Tidak ada anniversary-cake. Tidak ada lilin yang ditiup. Tidak ada kado yang berbungkus merah muda.

Namun bukankah semua sudah lebih dari cukup?
Hati yang nyaman.
Tiga anak yang aktif.
Kesehatan yang baik.
Tempat tinggal yang layak.
Makanan yang cukup.
Pakaian yang bersih.
Waktu yang bermanfaat, insyaAllah.

Setelah saya pikir...adakah kado lain yang lebih indah dari itu di dunia ini???
Ke Baitullah. Semoga segera diundang kesana ya...Yaa Allah :)

Selamat Hari Raya Idul Adha, saudara muslimku di seluruh dunia. Semoga Allah merahmati hidup dan mati kita...aamiin..

18 September 2015

Bermain dengan Uang

Diposting oleh Rini Andarstuti di 2:10:00 PM 0 komentar Link ke posting ini
Kenapa sie akhir-akhir ini Rini jadi rajin bahas duit ?? Sebenernya bukan akhir-akhir ini sie...pembahasan duit itu udah ada sejak jaman dahulu kala. Tapi sekarang makin kenceng bahasannya berhubung lagi banyak yang nguber duit...dengan segala macam cara yang gak pernah terpikir di jaman dulu.

Dulu...orang dapet duit halal tu cuma lewat kerja dan niaga. Ada beberapa yang dapat warisan, atau bagi hasil usaha. Namun asal muasalnya sudah jelas: ini uangku...aku memperolehnya sebagai gaji atas kerja selama sekian..sekian....

Sekarang...kekhawatiran atas "ketidakpunyaannya akan uang" ketika tidak bekerja semakin menjadi momok yang mau tidak mau akhirnya menjadikan segelintir orang 'cerdas' untuk bermain di sana. 

Kenal moneygame lah ya? Saya gak. Hahaha...cuma tau-tau aja sedikit. Lalu MLM? Tau juga. Lalu frase-frase sekelas: aset, passive income, jaringan...tau? Iya tau... Itu kan intinya duit tetep ngalir meski tidak bekerja. Tiduran di rumah...transferan masuk. Jalan-jalan ke mol...gak bawa duit...eh ada bonus di rekening...belanja dah kita.

Saudara saya yang baik hatinya,
Kalau realitanya semacam itu...ya ada beberapa yang masuk di akal saya. Ada yang tidak. Kalo didenger sama orang MLM nanti saya kena sindir: "masuk akal? Gak! Masuk kantong? Iya."
Jika kita pelaku bisnis yang sudah membawahi beberapa karyawan, punya cabang, lalu tanpa bekerja  kita hanya memantau di rumah...insyaAllah dana mengalir dan kita sudah tau jelas...ini sekian dari hasil sekian. 

Saya bukan orang yg anti-MLM lho ya...bagaimanapun...dlm kehidupan kita: membangun jaringan itu adalah amat sangat penting. Cuma sekarang kok makin banyak yang berkedok MLM padahal jelas-jelas bukan!
Pokoknya supaya cepat kaya. Itu deh. Ya saya juga pengen keleeuuss.. Tapi coba deh, jelasin ke saya..dgn akal saja..sesederhana menjelaskan pada anak SD bahwa: bagaimana saya bisa mendapatkan hasil 100jt dalam 2 bulan hanya dengan mendaftar nominal 7 angka saja...hanya dengan bermodal pamer rekening, gonta-ganti dp..dll...yang menurut saya..tidak pernah sama sekali menonjolkan "produk" nya?? 
Hey!!! Pernah dong! 
Oke saya salah, bukan tidak pernah, tapi -jarang-.
So, bagaimana? Kan katanya jualan juga. Lha yang dijual apa sie? Jual rekening apa jual produk.

Maaf ya, bagi saya...MLM yang sebenarnya adalah yang jelas: jelas produknya, ya yang djual adalah barang itu. Jelas keuntungannya utk setiap kali transaksi, misal keuntungan 10% dari harga barang. 
Seumpama...harga barang hanya 100rb...lalu jika ada orang lain yang bergabung maka saya akan dapat 200rb. Kira-kira masuk akal gak ya?

Ya masih tetap dalam pandangan saya...orang-orang MLM sejati maka akan berusaha sebisa mungkin menawarkan produknya agar laku. Agar orang belanja. Tidak terlalu peduli orang mau ikut bergabung sbg member atau tidak. Karena mereka tetap mendapatkan keuntungan dari transaksi tersebut meski orang yang membeli bukanlah membernya. Kalau tambah member, alhamdulillaah...kalau hanya belanja juga gak masalah. Tapi...kalau orangnya ngotot nambah-nambah member tanpa jelas apa yang sebenarnya dijual...cuma pamer-pamer rekening saja...itu yang agak membingungkan. Kira-kira perputaran dana dan passive income sebesar itu datangnya darimana? Mari dipikirkan seksama. Jangan sampai....ada uang-uang orang yang sebenarnya bukan hak kita tapi malah kita terima tanpa sadar...

Wallahu'alam.. :)

01 September 2015

Pembeli adalah Raja???

Diposting oleh Rini Andarstuti di 3:14:00 PM 0 komentar Link ke posting ini
Bismillaah...semakin marak saja proses jual-beli online sekarang ini. Aktif. Bergerak dan terus berinovasi. Saya senang melihat perkembangan teman-teman di sekitar yang sudah mulai membuka toko online mereka masing-masing. Benar-benar terbukti: di mana ada kemauan...di sana Allah memberi jalan.

Tidak harus menunggu mampu menyewa ruko baru berani membuka usaha. Tidak harus bermodal besar sampai pinjam sana-sini untuk bisa berkarya. Asal mau, maka kemungkinan untuk bisa akan terbuka lebih lebar.

Tentu saja, semua orang ingin melihat lebih banyak sanak saudaranya yang bisa mandiri. Berhasil. Berdaya saing. Senang melihat orang senang, susah melihat orang susah...bukan malah sebaliknya... Insyaa Allah..

Namun memang tidak semua orang ditakdirkan mahir berniaga. Ada yg memang hanya ahli bekerja sebagai pegawai. Ada yang memang pandai sebagai pengajar. Disuruh berjualan, pasti tidak akan bisa. Sebagaimana menyuruh koki menjahit baju...semua ada keahliannya masing-masing.

Lalu yang berniaga, selalu ingin memberi pelayanan terbaik kepada konsumennya. Kualitas terbaik. Harga masuk akal dan masuk kantong. Maka tidak jarang terdengar motto: pembeli adalah raja.
Benarkah begitu? Benar akan memperlakukan pembeli selayaknya raja? Karena apa? "Ya karena mereka belanja pada kita".
Hmmm...begitu...lalu kalau tidak belanja maka bukan siapa-siapa?

Maaf, saya agak tidak sejalan.

Pembeli adalah raja. Penjual adalah raja. Karyawan adalah raja. Pak kurir adalah raja. Semua kita adalah raja-raja yang mestinya diperlakukan sama. Kalau bermotto seperti itu, maka bisa disebut: yang berduit adalah raja, lainnya bukan.
Lalu kita hanya akan berlaku baik pada yang berduit saja. Yang tidak berduit, nanti dulu ya...anda bukan siapa-siapa. Lalu menjadi pembenaran bagi kita untuk ngomel-ngomel tanpa arah pada kurir hanya karena paketan belanjaan kita yang mereka bawa rusak. Lalu membuat kita harus diprioritaskan oleh penjual karena kita sudah memberi mereka uang. Lalu membolehkan kita marah-marah pada karyawan karena mereka tertukar kirim paket. Lalu apa esensi raja sebenarnya bagi kita? Uang. Lalu apa bedanya kita dengan para materialis pinggiran? Tidak ada.

Berlakubaiklah...tanpa memandang itu siapa. Karena uang bukanlah faktor penentu utama. Saling menghargai sewajarnya. Penjual menghormati pembeli sewajarnya. Pembeli pun seperti itu...karena simbiosisnya mutualisme. Dua arah. Bahkan keberhasilan proses jual beli online tidak hanya melibatkan dua pihak saja kan? Harus ada suplier yang amanah, karyawan yang rajin, kurir yang jujur, dan pembeli yang berbudi. Dan keseluruhnya itu juga adalah raja...perlakukan mereka dengan sama baiknya, meski tidak secara langsung memberi anda uang. Karena rejeki dari Allah adalah tentang ketentraman hati. Jika banyak uang namun hobi mencaci-maki dan dengki...kira-kira bisa kita sebut dapat rejeki gak ya? Dapat uang sih sudah pasti.

Wallahu'alam.
 

::Hanya usaha untuk membuat kenangan... Copyright © 2009 Baby Shop is Designed by Ipietoon Sponsored by Emocutez